Profil

Aplikasi ACO (Access CCTV Online) Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama

Video Profil A.C.O

Video Testimoni A.C.O

Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI, dalam rangka mewujudkan misi keempat dalam Cetak Biru Pembaharuan Badan Peradilan 2010-2035, yakni meningkatkan kredibilitas dan transparansi badan peradilan, telah melakukan pemasangan CCTV pada seluruh satuan kerja di bawahnya secara terpusat dan terkoneksi pada satu titik akses melalui Aplikasi Access CCTV Online (A.C.O) Ditjen Badilag pada laman website https://cctv. badilag.net

Access CCTV Online (ACO) merupakan aplikasi berbasis teknologi informasi dengan target capaian kinerja pada tataran implementasi:

  • Transparansi badan peradilan demi meningkatnya kepercayaan dan kenyamanan publik terhadap jenis layanan yang diberikan oleh peradilan agama.
  • Pengawasan secara berjenjang terhadap kemungkinan terjadinya praktik-praktik suap, gratifikasi, dan lain sejenisnya yang dapat menurunkan citra dan wibawa badan peradilan
  • Monitoring disiplin pegawai dalam melaksananan tugas pada jam kerja dan melaksanakan apel senin pagi dan jum’at sore setiap minggu.
  • Evaluasi konsistensi dalam implementasi standar jaminan mutu, baik penerapan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan & Santun) dalam melayani masyarakat maupun implementasi 5RIN (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin, Indah & Nyaman) sesuai dengan standar jaminan mutu yang telah ditetapkan.

Saat ini telah terkoneksi lebih dari 4000 mata CCTV ke dalam aplikasi Acces CCTV Online (ACO) Badilag dimana setiap satuan kerja minimal terdapat 9 mata CCTV dengan rincian sebagai berikut :

  • 7 CCTV pada Direktorat Badan Peradilan Agama MA RI
  • 263 CCTV pada 29 Pengadilan Tingat Banding (Pengadilan Tinggi Agama/Mahkamah Syar’iyah Aceh)
  • 3.708 CCTV pada 412 Pengadilan Tingkat Pertama (Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah)

Dalam rangka transparansi serta memudahkan pencari keadilan dalam memantau pelayanan di pengadilan, 3 (tiga) dari 9 (sembilan) mata CCTV pada setiap satuan kerja tingkat pertama yaitu Ruang Pelayanan (PTSP), Ruang Tunggu Sidang serta Halaman Parkir dapat diakses melalui website masing-masing satuan kerja atau dapat menggunakan menu search pada laman website ini. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat pencari keadilan dapat mengetahui kondisi layanan di pengadilan sehingga dapat menentukan kapan waktu yang tepat untuk datang ke pengadilan guna mendapatkan layanan.

Video Title- Assam Model Alankrita Bora: 2 Xxx H...

If you are a media analyst, a content creator, or simply a fan of world cinema, ignoring Assam is no longer an option. Keep your eyes on the Northeast; the next viral sensation has an Axomiya accent.

In 2024, SonyLIV launched an original Assamese political thriller, Janambhumi , which became the most-watched non-Hindi show in the Northeast. Disney+ Hotstar has started dubbing Marvel movies into Assamese—a move that legitimizes the language in the eyes of mainstream media. Popular media does not exist in a vacuum. The G Plus (Guwahati Plus) and NorthEast Now have become essential aggregators. They review films, interview YouTubers, and report on controversies (such as the banning of certain Bihu songs for vulgar lyrics). Likewise, Prag News and News Live have dedicated entertainment segments every evening, proving that Assamese audiences crave critical discourse about their media.

For decades, the mainstream narrative of Indian entertainment was largely a bipolar story dominated by Bollywood in the North and Kollywood/Tollywood in the South. Nestled in the serene hills and mighty Brahmaputra valleys, Assam remained a quiet powerhouse of culture—often overlooked by national media, yet fiercely alive in its own right. However, the last decade has witnessed a tectonic shift. Today, Title Assam entertainment content and popular media are no longer niche search queries; they are global phenomena driving millions of views, box office records, and cultural conversations.

Assam has moved beyond tokenism. It is no longer content to be a "beautiful location" for a Hindi film song (like the countless songs shot in Kaziranga or Majuli ). Instead, it is building its own screens, writing its own scripts, and uploading its own stories to the world. The revolution is not coming—it is already streaming, buffering, and trending.

Testimoni

Contact Us

Jika terdapat pertanyaan, silahkan hubungi kami ke nomor whatsapp :

: +62 812-2557-164
: +62 813-1084-4644